02 March 2009

Orang Itu Bernama Lihan

( Oleh : Lutfiel Hakim -- www.speak2success.com )

Perawakannya kecil, wajahnya bening tapi terkesan biasa-biasa saja. Terkadang, sesekali terlihat grogi di depan puluhan blitz yang bergantian mengambil gambar wajahnya, juga ditengah-tengah tatapan setiap orang yang telah mendengar cerita tentangnya. Dia bernama Lihan, seorang milyarder tulen, bukan katanya-katanya.

Lihan cuma seorang manusia yang diberi "roh" ketuhanan oleh sang pencipta. Roh yang mungkin saja sedikit orang yang bisa mendapatkannya. Roh Tuhan, dalam teori ESQ adalah roh esensi yang mungkin saja hadir di tiap sudut hati manusia, kala tiada tempat lagi untuk ditinggali, ketika tiada lagi suara terdengar dalam kebisingan. Dalam dunia sufistik, Lihan mungkin saja telah menempati maqom - baca: tempat- tertentu di sisi Tuhan, mungin tempat terdekat yang biasanya dianalogikan layaknya kedekatan seorang Ayah dengan anaknya. Jangankan merajuk, tak memintapun sang ayah dengan senang hati menawarkan.

Pada suatu saat, seorang pengacara hak patent milyarder yang menjadi klien saya pernah saya minta memberikan saya tausiyah bisnis dan rahasia kesuksesan saya. Maka jawaban beliau ada dua.

1. Komitmen.
Contoh yang beliau ambil untuk kata ini adalah penghargaan waktu. Jika hari ini kita tidak tepat waktu, maka jangan pernah hal ini terulang lagi. Dan, begitu dia berujar. Dalam hidup dia, tidak pernah mengulangi sesuatu yang salah secara sengaja lebih dari dua kali.

2. Garis tangan.
Ini agak sulit karena tentunya garis tangan setiap orang berbeda-beda. Akan halnya orang berbisnis, kata beliau, juga dipengaruhi garis tangannya. Entah itu sebagai pembenaran atas dirinya yang sungguh secara tampang amat biasa, namun memiliki rizqi yang luar biasa.

Ustadz Lihan memiliki dua hal diatas. Dalam wawancara dengan Pak Roni, di puncak acara milad sebelum TDW naik panggung, ada satu hal yang jelas tersirat dari diri beliau: kepolosan. Betul. Lihan adalah lihan. Lihan tidak berubah dari siapa dia "pada waktu itu" dan siapa dia "pada waktu
sekarang".

Lihan "dulu" begitu komitmen, setidaknya seperti apa yang beliau ceritakan dengan "memberi dan terus memberi" tanpa perhitungan matematis [Baca: Berbisnis dengan Logika Hati, http://roniyuzirman.blogspot.com/2009/02/bisnis-untuk-menolong-orang-berbisnis.html] . Pun kita tidak mendapati beliau sebagai orang yang berat tangan membantu sesama di saat berkelimpahan sekarang. Bahkan terus menjadi dan menjadi. Bermilyar dana disalurkan dan ditimpali dengan satu kata yang amat mengagumkan "lupakan". Beliau lupakan apa yang telah beliau berikan untuk melibatkan sebanyak mungkin orang lain dalam kehidupannya.

Dan lagi-lagi, beliau kembail menanam apa yang oleh Pak Jamil Azzaini sebagi energi positif. Energi itu dipantulkannya di setiap tempat yang disinggahi, lalu dilupakannya. Betapa terpujinya.

Dan Lihan mendapati garis tangannya begitu rupa. Saya bersalaman dan meminta beliau mendoakan saya agar rejeki saya berkah, persis ketika beliau turun tangga menuju Masjid untuk shalat duhur di sela-sela Milad. Tentu saya tidak menyempatkan melihat garis tangan beliau yang mungkin saja, seperti What Lihan Was, biasa saja. Namun garis tangan itu ada pada tiap capaian-capaian yang bukan beliau katakan, tetapi beliau lakukan dan orang katakan. Ini kelebihan orang yang betul hebat dibanding orang yang setengah hebat. Orang hebat berbuat, dan orang lain mengakui capaiannya.

Sedangkan orang setengah hebat hanya berkata, dan dia sendiri mengaku-aku pencapaiannya. Saya memang tidak percaya garis tangan seorang Lihan yang polos itu berbeda dengan kebanyakan manusia lain. Tapi saya percaya, bahwa orang polos itu Tuhan lah sahabatnya. Ia pernah merajuk, menjadi seorang guru amat biasa yang tidak banyak mengenalnya. Lalu disulap oleh Sang Pencipta, menjadi orang populer yang makin populer dengan kepolosannya. Saya percaya, ada kejujuran dan ketulusan yang sangat dalam kepolosan seorang Lihan. Dan, kepolosan itulah yang membentuk garis tangannya hingga sekarang.

No comments:

Post a Comment